Saturday, April 19, 2008

Kun Fayakun (The Movie)



GENRE : Drama Keluarga Religius
PEMAIN : Agus Kuncoro, Desy Ratnasari, Zaskia A. Mecca, Andre Stinky, Opick
SUTRADARA : H. Guntur Novaris
PENULIS NASKAH : H. Yusuf Mansur, H. Guntur Novaris
PRODUSER : H. Yusuf Mansur, H. Guntur Novaris
RUMAH PRODUKSI : PUTAAR PRODUCTION
KLASIFIKASI PENONTON : 13 Tahun Keatas (13+)
TANGGAL RILIS : 17 April 2008 (Serentak di seluruh Bioskop 21)

SINOPSIS :
Ardan (diperankan Agus Kuncoro) seorang tukang kaca keliling. Hidupnya sangat sederhana tetapi ia tetap gigih berjuang, sabar, tabah dan selalu ikhlas apapun cobaan diberikan kepadanya. Itikadnya tetap bulat untuk mewujudkan impiannya agar keluarganya hidup layak. Keinginanya pun sangat bersahaja, ia ingin mengganti gerobaknya dengan sebuah kios.

Beruntung Ardan mempunyai seorang istri ( diperankan Desi Ratnasari) yang setia dan taat kepada suami dan Tuhannya. Dia juga tak pernah luput mendoakan dan menanti dengan setia kedatangan Ardan sepulangnya dari berjualan kaca keliling. Senyumannya yang khas selalu dihadirkannyan untuk membesarkan hati Ardan. Tutur katanya pun sangat bijak, sehingga menyejukan semua orang termasuk kedua buah hati mereka.

Sampai ketika keyakinan itu berada pada titik nadir, namun justru sesuatu terjadi pada keluarga tersebut dari arah yang tidak terduga.

Lebih jauh look at:

http://www.wisatahati.com/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=69
http://www.wisatahati.com/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=79
http://www.wisatahati.com/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=75
http://www.wisatahati.com/modules.php?name=Content&pa=showpage&pid=78

Friday, April 18, 2008

Presiden Janji Naikkan HPP

Purworejo, Kompas - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berjanji menaikkan harga pembelian pemerintah atau HPP untuk gabah dan beras. Namun, harga beras harus tetap dapat dijangkau oleh masyarakat.

Presiden menegaskan hal itu di sela-sela panen raya perdana padi varietas baru, Super Toy HL-2, di Desa Grabag, yang terletak 20 kilometer sebelah selatan Kecamatan Purworejo, ibu kota Kabupaten Purworejo, Jawa Tengah, Kamis (17/4).

Dalam dialog dengan Presiden, sejumlah petani mengeluhkan rendahnya harga jual gabah dan beras petani. Hal itu memberatkan petani karena harga pupuk telah membubung. Para petani berharap pemerintah meningkatkan HPP beras dan gabah atau meningkatkan subsidi.

HPP untuk gabah kering panen (GKP) saat ini Rp 2.000 per kilogram (kg), dan gabah kering giling (GKG) Rp 2.575 per kg. HPP beras Rp 4.000 per kg.

Selain menjanjikan kenaikan HPP, Presiden juga menjanjikan pengendalian harga pangan agar tidak terlalu tinggi.

Di luar mengendalikan harga, menurut Presiden, kebijakan pangan yang dilakukan pemerintah antara lain meningkatkan produksi, kecukupan cadangan beras Bulog, perbaikan pendapatan petani, dan harga pangan yang terjangkau konsumen.

Pengamanan stok pangan

Lebih jauh Presiden Yudhoyono menjelaskan, Indonesia telah mencapai swasembada beras, gula, jagung, telur, dan daging ayam. Meski begitu, belum ada dorongan untuk melakukan ekspor. Pengamanan stok pangan nasional lebih diutamakan.

Adapun untuk kedelai dan daging sapi, Presiden optimistis dalam tiga tahun mendatang kebutuhan nasional akan dicukupi oleh produksi dalam negeri.

Untuk meningkatkan produksi pangan, Presiden menginstruksikan agar lahan telantar dimanfaatkan. Saat ini ada sekitar tujuh juta hektar lahan yang telantar. Dari lahan yang telantar itu, sekitar 1,7 juta hektar di antaranya berstatus hak guna usaha.

”Saya minta lahan yang telantar ditertibkan, dan digunakan untuk pertanian,” katanya.

Presiden juga mendukung pengembangan padi varietas baru, Super Toy HL-2, yang ditargetkan dapat dipanen tiga kali per tahun, tanpa perlu menanam ulang bibit. Kapasitas panen ditargetkan 15,5 ton gabah per hektar. Padi ini sebelumnya ditanam di Bantul dan Kulon Progo di Yogyakarta.

Menanggapi kehendak pemerintah menaikkan HPP gabah dan beras, Ketua Dewan Pertimbangan Organisasi Himpunan Kerukunan Tani Indonesia (HKTI) Siswono Yudo Husodo menyatakan sepakat. ”Hanya kenaikan HPP untuk gabah dan beras sebaiknya dilakukan sebelum panen padi musim gadu, yakni sebelum Juni-Juli 2008,” kata Siswono.

Jika kenaikan HPP dilakukan setelah panen gadu, hal itu sama saja tidak akan dirasakan petani karena panen pada musim kemarau tidak banyak lagi. ”Itu artinya kenaikan HPP baru efektif dirasakan petani pada panen raya tahun depan,” ujarnya.

Siswono menjelaskan, tanpa pemerintah menaikkan HPP, harga gabah dan beras secara riil sudah naik. Ada tiga kategori harga beras saat ini, yakni harga sesuai HPP, harga riil di pasaran, dan harga di pasar dunia yang sudah mencapai 680 dollar AS per ton, atau Rp 6.300 per kg.

Kenaikan HPP, menurut Siswono, untuk saat ini lebih berdampak terhadap Bulog. ”Kalau HPP tetap pada posisi sekarang, Bulog tidak akan bisa membeli beras. Kalaupun bisa, kualitasnya akan di bawah standar,” katanya.

Isu global

Kenaikan harga pangan, khususnya beras, telah menjadi isu global. Hal ini, menurut Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian Ahmad Suryana, terungkap dalam pertemuan Board of Trustees IRRI (Lembaga Penelitian Beras Internasional) di Manila, 7-11 April. ”Naiknya harga pangan memukul negara importir beras, seperti Banglades, Filipina, dan sejumlah negara Afrika,” kata Suryana.

Menurut Menteri Pertanian Anton Apriyantono, dibandingkan dengan Vietnam, Thailand, dan negara-negara pengimpor beras, Indonesia paling siap menghadapi lonjakan kenaikan harga beras dunia. ”Setidaknya lebih siap sampai bulan-bulan ini,” katanya

Bambang Soesatyo, Ketua Komite Tetap dan Moneter Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, menyatakan, Kadin telah mengingatkan pemerintah tentang ancaman inflasi pangan dunia. Pemerintah diharapkan segera mengambil langkah konkret untuk mengantisipasi ekses kenaikan harga pangan dan juga energi di pasar global.

Kasus di Cirebon

Subdivisi Regional (Subdivre) Perum Bulog Cirebon memperketat pengawasan penyerapan beras petani karena ditemukan adanya penjualan beras asal Cirebon ke Kalimantan dengan harga beli di atas HPP. Ini didorong oleh kekhawatiran ekses penjualan ke luar Jawa atau ekspor ilegal akan mengganggu pengadaan beras Bulog.

Kepala Subdivre Cirebon Slamet Subagyo mengatakan, tim sosialisasi, monitoring, dan evaluasi Bulog menemukan bukti adanya sejumlah pedagang yang membeli beras petani dengan harga di atas HPP untuk dijual ke Kalimantan. Harga beli mereka berkisar Rp 4.150 per kg, sedangkan harga beli Bulog sesuai dengan HPP Rp 4.000 per kg.

”Para pedagang beras sistemnya door to door ke tempat penggilingan gabah, membeli beras dengan tunai Rp 4.150 per kg. Beras itu dikirim ke Kalimantan dengan kapal kayu dari pelabuhan Cirebon,” ujar Subagyo.

Tim menemukan pedagang membeli beras dari penggilingan Rp 4.100-Rp 4.150 per kg, yang akan dijual kembali Rp 4.300 per kg. Jumlah beras yang dikirim ke Kalimantan mencapai 800 ton. 
(LKT/EGI/OSA/MAS/ MKN/SIR/THT/ANG)

  
Sumber: Kompas Jum'at 18 April 2008

Wednesday, April 16, 2008

Asal Usul: Musik

Oleh Suka Hardjana

Tanpa musik hidup hanyalah kekacauan, kata Nietzche. Sang filsuf juga bilang, musik itu pencerahan. Musik adalah penghiburan, kata Camus. Tak pernah ada orang bilang, musik itu jelek. Para ahli komunikasi kontemporer bahkan percaya, musik adalah medium komunikasi tak tersulihkan saat ini.

Saya bilang, musik, film, dan sepak bola adalah ikon peradaban abad ke-20 dan masa kini. Siapa unggul dalam ketiga ikon peradaban modern itu akan memiliki akses tak tergantikan dalam penyebaran kekuatan pengaruh pencitraan diri kepada orang lain. Pengaruh positif pencitraan diri tidak direbut melalui keperkasaan politik persenjataan (pertahanan) dan politik dagang (trik ekonomi).

Kemakmuran—betapa pun vitalnya—tak akan mudah merebut hati rakyat. Massa awam yang disebut rakyat di mana pun mudah trenyuh oleh ketiga pesona ikon peradaban itu—musik, film, dan sepak bola. Orang-orang Afrika, Amerika Latin, dan Eropa Timur paham betul dengan pengaruh sugesti ketiga elemen budaya massa itu. Bola dikejar, layar disimak, dan bunyi didengar adalah pantun kegiatan sehari-hari mereka.

Tetapi karena elemen dasar materinya, yaitu bunyi, musik mempunyai kekuatan pengaruh sugesti tersembunyi yang tak terelakkan. Bunyi itu penetratif dan sugestinya merembus ke seluruh spektrum kesadaran—dalam gelap maupun terang—bak benda cair merembes ke ranah dataran benda padat. Ia tak terelakkan (unverhindem), bahkan juga untuk mereka yang tuli dan hilang ingatan sekalipun. Getaran frekuensi dan gelombang bunyi yang menjadi wahana primer seni bunyi (musik) menggelitik seluruh jaringan susunan syarat dan aliran darah serta cairan dalam tubuh makhluk hidup, termasuk hayat tumbuh-tumbuhan. Orang tuli tak mendengar (musik), tetapi menghayati kesadaran (meng-grahita) fenomena seni bunyi itu. Hanya keterbatasan kesadaran dan kecerdasan (inteligensi) yang memungkinkan terjadinya kendala terhadap persepsi keluasan seni bunyi yang disebut musik. ”Manusia bebal tak mengenal musik tinggi,” kata dirigen, musikolog, dan kritikus musik Jerman, Hans von Bulow, di abad silam.

Bukan hal baru bahwa musik dijadikan medium komunikasi sambung rasa di antara sesama. Dalam ranah politik diplomasi tak jarang musik menjadi alat pendekatan ampuh untuk menjembatani saling keterasingan, saling curiga, atau bahkan sifat saling mengancam dan bermusuhan di antara dua komponen liyan yang berseberangan.

Pada episode terakhir perang dingin tahun 1978 saya berkesempatan menyaksikan konser akbar Orkes Philhamoni Leningrad dari Uni Soviet di kota Toledo-Ohio, Amerika Serikat. Orkes dengan pimpinan dirigen legendaris Dmitry Kutienko dan solis biolin Victor Tretjakoff mendapat sambutan ekstra antusias dalam tur mereka di pusaran negeri kapitalis Amerika Serikat. Mereka memainkan seni musik tinggi karya pujangga besar musik Rusia Tschaikowski, Borodin, Kachaturian, Prokevieff, dan Schostakowitsch, yang adalah representan utama ideologi seni komunis di negeri tirai besi itu. Sebaliknya, pada tahun 1958 pianis muda brilian Amerika Serikat, Van Clibum (23), secara sensasional memenangi juara pertama lomba musik internasional, Kompetisi Piano Tschaikowski, di kota Moskwa. Van Cliburm lantas dikelilingkan ke segenap penjuru dunia sebagai duta perdamaian dan—tentu saja—sekaligus sebagai simbol superioritas Amerika atas pesaingnya.

Kini sejarah berulang. Perseteruan nuklir antara Amerika dan Korea Utara tak kunjung surut. George W Bush mendedah Korea Utara sebagai Setan Poros Kejahatan. Kim Yong Il bergeming. Korea Utara menghujat Amerika sebagai Imperialis Tengik Penjahat Kapitalisme. Segala upaya perundingan penuh siasat basa-basi perdamaian dilakukan—masing-masing melibatkan sekutu terdekat yang diharapkan bisa menetralisir dan menjembatani kedua belah pihak yang tatap sengketa secara langsung. Jalan buntu. Perseteruan yang telah berumur lebih dari setengah abad dilanggengkan!

Bujukan budaya lantas dilakukan—sebagai upaya terobosan damai. Tak kepalang tanggung. Awal pekan lalu selama 2 x 24 jam dirigen kenamaan Lorin Maazel beserta megasimfoni The New York Philharmonic Orchestra (NYPO) secara damai dan penuh persahabatan menginvasi langsung ke pusat jantung pertahanan Korea Utara, dengan ibu kota Pyongyang. Mereka memainkan karya George Gershwin (Amerika, 1898-1937) An American in Paris (1923), karya Antonin Dvorak (Ceko, 1841-1904) Symphony Nr 5 in Eminor op 95-From the New World (1892), dan karya Richard Wagner (Jerman, 1813-1883) Prelude dari babak ketiga opera Lohengrin (1850).

Saya kenal betul ini orkes simfoni. Saya menjulukinya sebagai menara tertinggi di kota New York dan pencakar langit musik dunia bersama orkes Philharmonia Berlin, London, Paris, Vienna, Moskwa, dan Petersburg (Leningrad). New York Philharmonic selalu tampil brilian dan meninggalkan kesan yang tak terlupakan bagi pendengarnya. Tahun 1984 orkes ini pernah tampil di Jakarta dengan dirigen legendaris yang macho karismatik Zubin Mehta dan batal tampil kembali di Jakarta dengan pimpinan maestro Kurt Masur gara-gara kemelut huru-hara lengsernya Soeharto, Mei 1998.

Musik punya kekuatan. Muhibah The NYPO pasti telah meninggalkan kesan yang mendalam bagi publik Korea Utara. Walau efeknya mungkin tak akan berpengaruh secara politis, dalam konteks humanitarian konser The NYPO niscaya memberi siraman persahabatan dan kemanusiaan bagi orang Korea yang hayatan musikal dan intelegensinya tidak bebal seperti George W Bush dan Kim Yong Il. Antara persepsi publik (common sense) dan pendirian elite politik (kekuasaan) adalah dua hal yang tidaklah harus selalu identik. Damailah mereka yang tidak bebal. Musik lebih baik daripada perang dan perseteruan!

Sumber: Kompas Minggu, 2 Maret 2008

Sunday, April 13, 2008

Suara Hati dari Nada Tujuh

Kritik Sosial Iwan Fals: Suara Hati dari Nada Tujuh

Oleh Franky Sahilatua

“The fault, dear Brutus is not in our’s star, but in our self”.
(Kesalahan itu sobat Brutus, bukan karena tokoh kita, melainkan diri kita”, William Shakespearre, III, i)

PENGADILAN MORAL BIN BANGSA

Kemarin malam -- 30 Oktober 2002 -- saya menyanyi di Teater Luwes, Institut Kesenian Jakarta (IKJ), Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta. Saya diatur untuk menyanyikan lagu “Perahu Retak” hanya karena refrain lagu itu memprovokasi tuntutan atas ketidakadilan dengan nafsu yang seronok: “Aku heran, aku heran, yang benar disingkirkan...” Lagu Iwan Fals “Suara Hati”, juga tak ketinggalan masuk dalam “skenario” pertunjukan itu.

Mereka -- anak-anak muda dari Teater Kaisar itu -- dalam rangka Hari Sumpah Pemuda, bersama sejumlah Organisasi Kemasyarakatan Pemuda (OKP) pusat, sedang mementaskan naskah “Pengadilan Moral Bin Bangsa”, black-comedy karya Djoko Edhi S Abdurrahman -- dari Pemuda Muhammadiah -- yang sekaligus bertindak selaku sutradaranya. Bagus, dari sisi pertunjukan, drama itu sukses, dihadiri Menaker, para Dirjen Depsos dan Diknas, perwira tinggi Mabes Polri, tokoh agama, Seniman TIM, OKP, dan Mahasiswa IKJ.

Saya ingin mengulas tentang “Suara Hati” dari substansi yang saya tangkap dari drama itu, syairnya sbb: Apa kabar suara hati//Sudah lama baru terdengar lagi//Kemana saja suara hati//Tanpa kau sedih rasanya hati//Kabar buruk apa kabar baik//Yang kau bawa mudah-mudahan baik//Dengar-dengar dunia lapar//Lapar sesuatu yang benar//Suara hati kenapa pergi//Suara hati jangan pergi lagi//.

Menurut cerita drama dengan tematik “Pengadilan Moral bin Bangsa” itu, tokoh Moral bin Bangsa yang dihukum mati, adalah suara hati. Moral bin Bangsa, merupakan personifikasi akhlakul karimah (ahklak mulia) yang secara beramai-ramai terbunuh oleh sistem dan habitat angkara murka (moral hazard dimulai sejak demokrasi di Indonesia diusung 1998.

Itu memang bukan ihwal sederhana. Bukan Iwan Fals dan Teater Kaisar saja yang resah atas masalah serupa. Rasanya seluruh bangsa Indonesia, secara langsung pun tak langsung, juga tengah gundah gulana menyaksikan perilaku aksiologis, sistem nilai kita yang terus-menerus dirusak berramai-ramai dan terus-menerus pula membunuh suara hati, empat tahun belakangan.

Siapa gerangan Suara Hati? Saya ingin mengajak semua untuk mengenal siapa ia. Pernah ketika Anda berbohong, sekonyong-konyong ada suara dari dalam hati yang menegur Anda: “Kau berbohong!” Itulah suara hati. Ia tak mampu berdusta. Ia adalah suara ilahiah kita. Sepanjang ia masih bisa bicara, dipastikan bahwa Tuhan masih bersama Anda. Sebaliknya, ketika ia tak lagi bersuara, ia sudah ditaklukan Setan. Satu hal dari ciri suara hati, ia senantiasa mengajak kita ke moral mulia, hakikatnya penuntun ke kebenaran ilahiah.

Dalam konteks tauhid sosial, kebenaran ilahiah seperti itu, dalam preferensi moral kebangsaan sebagai produk suara hati itu, kian hari kian memprihatinkan untuk bisa diharap mampu memulihkan krisis kondisi bangsa.

Saya berpendapat bahwa suara hati adalah sillabus moral yang diajarkan langsung oleh Ilahi. Dengan cara pikir demikian, suara hati menjelma preferensi ilahiah sesungguhnya. Simpel, kita seringkali disuguhi bagaimana cara-cara kita berdemokrasi yang sangat mengandalkan pembenaran lewat legitimasi aturan main, sejak Tatib, UU, TAP MPR, hukum positif, terutama hukum pidana yang tak pernah mengajarkan moral kepada manusia kecuali menghukum, belaka cuma instrumen moderasi untuk memenangkan permainan tanpa menghiraukan aspek kepatutan moral, sehingga begitu banyak keanehan berlangsung di sekitar kita dewasa ini. Ada suatu yang salah pada kita!

Iwan dan Teater Kaisar berbeda menanggapi itu. Dalam Iwan, Suara Hati cuma pergi. Sedang dalam tragedi Kaisar, Suara Hati terbunuh: mengisahkan kepastian malapetaka atas moral yang terus memuncak.


NADA TUJUH

Dari sisi teknik musik, “Suara Hati” satu tipe dengan “Bento”, lagu Iwan terdahulu: jalur nada, atmosfir, lintasan melodi, sama-sama di E Minor, sama-sama menggunakan sound distortion, sama-sama bergenus rock n roll. Terpenting dari kesamaan itu, ialah sama-sama menggunakan Nada Tujuh yang lebih dikenal dengan julukan Not Satire.

Walau terdapat perbedaan bite – “Bento” dengan balada melodi blues “Suara Hati” dengan Cha-Cha melodi blues – tapi keduanya merujuk Nada Tujuh. Ketukan bass yang monoton pada kedua lagu itu, menyuguhkan daya transedental bagi pemirsanya, yang dapat dihubungkan dengan pembenaran teorema “Pusat Kesenangan Otak” dari pakar saraf otak Perancis, George Delgado.

Namun demikian, dalam konteks materi wacananya, perhatian saya didominasi kritik sosial lagu itu yang dikawal Nada Tujuh. Lalu, bagaimana Iwan merekam peristiwa, dan menyuarakannya kembali dengan irama yang pas dengan kejiwaan aktual publik.

Dari sejarahnya, Nada Tujuh memang media handal untuk lagu tipe-tipe itu. Jalur Nada Tujuh bersumber dari musik tradisional Afro-America, adalah musik para budak – musik orang-orang tertindas, yang sejak awal merupakan media protes dengan nada. Tercatat Elvis Prisley yang berguru kepada pemusik Nada Tujuh.

Iwan dengan canggih mengolah Nada Tujuh untuk mengisi teriakan-teriakan satir pada kedua lagu tadi. Lepas dari faktor itu, secara metode psikologi, ada tiga aspek yang menderma kekuatan pada lagu untuk mempengaruhi audiens. Yakni: (i) Amplitudo/Power, (ii) Attitude, dan (iii) Syair/kekuatan kata.

Kerasnya suara bunyi – termasuk jalur Nada Tujuh -- memiliki pengaruh kuat. Namun demikian, lebih penting lagi adalah kemampuan kondisi perilaku pemirsa untuk mengembangkan dirinya atas lagu-lagu tersebut. Kemudian makna syair. Dengan kata lain, syair merupakan kekuatan kata yang mampu menerbitkan identitas pemirsanya dalam kalimat-kalimat satire syair Iwan.

Dengan referensi itulah bagaimana cara memandang “Suara Hati” Iwan Fals. Pembungkusan akronim “Benci Soeharto” yang secara pikososiologis adalah issu aktual menjadi “Bento”, disampaikan dengan jalur Nada Tujuh, membuat “Bento” mencapai pasar luar biasa pada masanya sesuai iklim dan psikologi politik yang menyiar dari Cendana. Jadi ada pengolahan aktualitas yang jitu.

Iwan dengan lihai mengolah kembali ide-ide pada “Bento” dalam “Suara Hati” tatkala semua orang resah dengan perilaku elit bangsa yang krisis suara hati. Faktor-faktor itu telah membuat “Suara Hati” secara psikososiologis menjadi sangat kuat. Peran media pandang dengar kemudian menambah dahsyat efektivitasnya. Clip Music “Suara Hati” yang mengambil lokasi di IKJ itu, dari sisi penggarapannya juga bagus, membuat lagu itu memiliki kekuatan luar biasa.

PESAN MORAL

Sederet pertanyaan muncul: apa jadinya demokrasi tanpa hukum? Apa jadinya hukum tanpa moral? Apa jadinya moral tanpa nurani? Apa jadinya nurani tanpa suara hati?

Semasa Orde Baru, berbangsa lebih mudah. Karena jika mulai tampak gejala perpecahan bangsa, ABRI turun tangan melawannya. Kalau perlu menodongkan senjata ke pelipis. Berbangsa seperti itu mudah.

Tapi ketika acuan semua orang adalah demokrasi, ABRI sudah tak berfungsi, kecuali demokrasi itu sendiri. Masalahnya kemudian, cara-cara demokratis itu menjadi keliru tatkala kebebasan diterjemahkan secara serampangan, cuma berdasarkan aturan main, sedangkan nurani tak pernah diikutsertakan lagi. “Suara Hati” menjawab premis itu.

Jakarta, Sabtu, 02 Nopember 2002.

Wednesday, April 9, 2008

TV Streaming (Test)


Saya Baru Nyoba Tv Streaming. Maksudnya pingin punya TV Streaming Sendiri.







credits to: dr. ngesot

Tuesday, April 1, 2008

Ratib Al Haddad

Ratib, wirid yang satu ini sering kita baca sama-sama. Sangat populer, dan sangat dianjurkan oleh sebagian (besar) ulama. Disusun oleh Imam Abdullah bin Alawi Al-Haddad, seorang pembaharu Islam (mujaddid) yang terkenal, berdasarkan wangsit yang beliau terima pada saat malam Nuzulul Quran (17 Ramadhan -- i.e. malam lailatul qadar).


1. Ratib Al Haddad (Audio)
2. Ratib Al Haddad (Text)


Sumber: milis NU Australia, big thankz to Ustadz Umar Faruk

Daulat Pangan

Oleh Khudori

Krisis pangan menjalar ke mana-mana, termasuk Indonesia. Keadaan kelebihan pasokan tidak lagi terjadi, sebaliknya dunia kini ditandai kelebihan permintaan.

Kondisi haus pangan dipicu booming ekonomi China dan India (Chindia) yang populasinya hampir sepertiga penduduk dunia. Pertumbuhan ekonomi hampir dua digit, mensyaratkan pemenuhan pangan dan energi dalam jumlah besar. Selain itu, pemanasan global membuat produksi pangan sering gagal.

Cadangan yang menipis, instabilitas geopolitik, dan gaya hidup enggan berubah membuat tekanan pada energi fosil kian kuat. Untuk menyiasati harga minyak yang lebih dari 100 dollar AS per barrel, banyak negara berlomba memproduksi energi alternatif (biofuel). Produk pangan (jagung, kedelai, gandum, tebu) yang semula untuk melayani perut kini dikonversi menjadi bahan bakar.

Kedaulatan pangan
Kondisi haus pangan ini memicu lonjakan harga, yang menurut FAO (2007), sifatnya tidak temporer tetapi lebih permanen.Menyiasati kondisi ini, negara-negara penghasil pangan mengurangi ekspor, lebih mengutamakan bagi konsumsi dalam negeri. Langkah sejumlah negara produsen utama beras (Vietnam, Thailand, India, dan China) menghentikan ekspor tak lain guna mengantisipasi instabilitas harga beras di dunia. Akibat tren ini, negara-negara konsumen beras, jagung, terigu, dan kedelai akan amat terpukul (International Food Policy Research Institute, 2007). Solusinya tidak cukup dengan menaik-turunkan tarif perdagangan seperti fiskal 1 Februari 2008, tetapi harus bersifat jangka panjang dengan mengusung kedaulatan pangan.

Sejauh ini kedaulatan pangan belum menjadi visi pemerintah. Selama ini, visi pemerintah tertuang dalam UU No 7/1996 tentang Pangan. Dalam UU itu pembangunan pangan diletakkan dalam konsep ketahanan pangan (food security). Konsep yang diadopsi dari FAO itu didefinisikan sebagai kemampuan negara memenuhi kebutuhan pangan (warganya). Istilah ini menunjuk kondisi terpenuhinya pangan di tingkat rumah tangga, tercermin dari tersedianya pangan yang cukup, dalam jumlah, mutu aman, merata, dan terjangkau. Di dalamnya ada empat pilar: aspek ketersediaan (food availibility) , aspek stabilitas ketersediaan atau pasokan (stability of supplies), aspek keterjangkauan (access to supplies), dan aspek konsumsi pangan (food utilization) .

Bergantung impor
Ketahanan pangan tidak menyoal siapa yang memproduksi, dari mana pangan diproduksi, dan bagaimana pangan tersedia. Yang penting, ada pangan dalam jumlah cukup. WTO bahkan menyebut ketahanan pangan sebagai ketersediaan pangan di pasar (availability of food in the market), pangan yang mengabdi kepada pasar. Konkretnya mewujud dalam beleid ”memanen pangan di pasar” (impor) ketimbang ”memanen di lahan” (menanam sendiri). Juga tidak dipersoalkan berapa volume impor dan siapa yang paling diuntungkan dari kebijakan itu: importir kartel atau petani/konsumen miskin?

Presiden Yudhoyono menjelaskan, kenaikan harga pangan merupakan gejala global. Muslihat ini merupakan wujud konsep ketahanan pangan: memanen pangan di pasar. Dalam jangka pendek, kebijakan ini bisa menjadi obat kelaparan. Namun, dalam jangka panjang tak hanya menguras devisa, tetapi mengabaikan aneka sumber daya lokal. Ketika pangan kita tergantung impor, meski berdaya dalam ekonomi dan militer, secara politik amat rentan. Uni Soviet hancur karena embargo pangan AS.

Maka, amat perlu adanya kedaulatan pangan. Kedaulatan pangan adalah hak tiap orang, masyarakat, dan negara untuk mengakses dan mengontrol aneka sumber daya produktif serta menentukan dan mengendalikan sistem (produksi, distribusi, dan konsumsi) pangan sendiri sesuai kondisi ekologis, sosial, ekonomi, dan budaya khas masing-masing (Hines, 2005). Pengambilan keputusan dilakukan di level lokal/nasional, bukan di bawah badan perdagangan internasional (IMF, Bank Dunia, WTO) dan korporasi global. Pangan bukan komoditas yang sekadar dijual.

Prasyarat ketahanan
Kedaulatan pangan merupakan prasyarat ketahanan. Ketahanan pangan baru tercipta jika kedaulatan pangan dimiliki rakyat. Dari perspektif ini, pangan dan pertanian seharusnya tak ditaruh di pasar yang rentan, tetapi ditumpukan pada kemampuan sendiri. Untuk menciptakan kedaulatan pangan, pemerintah harus menjamin akses tiap petani atas tanah, air, bibit, dan kredit. Di tingkat nasional, kebijakan reforma agraria, air untuk pertanian, aneka varietas lokal unggul, dan kredit berbunga rendah harus jadi prioritas. Dalam konteks alam, petani perlu perlindungan atas aneka kemungkinan kerugian bencana alam, seperti kekeringan, banjir, dan bencana lain.

Negara perlu memberi jaminan hukum bila itu terjadi, petani tidak terlalu menderita. Salah satu caranya, perlu UU yang mewajibkan pemerintah mengembangkan asuransi kerugian atau kompensasi kerugian bagi petani atas bencana alam/hal sejenis.
Dalam lingkup sosial-ekonomi, negara perlu menjamin struktur pasar yang menjadi fondasi pertanian. Ini harus dikembangkan guna mengatasi struktur pasar yang tidak adil di dalam negeri dan siasat atas struktur pasar dunia yang tak adil bagi negara berkembang. Pendek kata, semua yang menambah biaya eksternal petani, menurunkan harga riil produk pertanian dan struktur yang menghambat kemajuan pertanian, perlu landasan hukum yang kuat (Pakpahan, 2004). Bagi Indonesia, dengan segenap potensinya, tidak ada alasan untuk tidak berdaulat dalam pangan.

Khudori Peminat Masalah Sosial-Ekonomi
Sumber: Kompas, Selasa, 1 April 2008

Recent Post